• Follow Us On : 

Gubernur BI Ungkap Tiga Faktor Penyebab Nilai Tukar Rupiah Tidak Stabil


Redaksi | Senin,28 Mei 2018 - 14:43:33 WIB
Dibaca: 386 kali 
Gubernur BI Ungkap Tiga Faktor Penyebab Nilai Tukar Rupiah Tidak Stabil

JAKARTA - Nilai dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan terhadap rupiah sejak awal tahun. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah tidak stabil.

"Bahwa yang kita hadapi sejak awal Februari yang terlihat tekanan terhadap stabilitas khususnya nilai tukar itu memang lebih karena perubahan kebijakan di AS yang memang berdampak ke seluruh negara, termasuk Indonesia," kata Perry di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (28/5/2018).

Perry menyebut, tiga faktor ini juga tidak berdampak pada rupiah saja, melainkan juga mata uang sejumlah negara berkembang. Faktor pertama adalah rencana kenaikan suku bunga The Fed.

"Sejumlah pelaku pasar memperkirakan lebih agresif, karena perekonomian AS semakin membaik, inflasi semakin tinggi sehingga pelaku pasar memperkirakan Fed Fund Rate kemungkinan naik 4 kali meskipun probabilitas lebih banyak 3 kali. Sehingga itu mendorong kenaikan suku bunga di AS," kata Perry.

Faktor kedua, lanjut Perry, adalah kebijakan fiskal negeri Paman Sam yang lebih ekspansi, seperti penurunan tarif pajak untuk penghasilan korporasi dan meningkatkan belanja infrastruktur. Hal itu akan membuat defisit fiskal AS membengkak dan butuh pembiayaan baru.

"Sehingga sukuk bunga US treasury bond-nya naik. Semula kami perkirakan US treasury bond paling-paling 2,75. Tapi sejak Februari overshooting 3,2% dan sekarang 3,1%. Itu kenapa terjadi capital reversal, dan pembalikan modal dari negara maju maupun emerging market lari ke AS. Pada saat yang sama mata uang dolar menguat ke seluruh mata uang dunia," jelas dia.

Selanjutnya, faktor yang ketiga adalah risiko yang berasal dari sejumlah geopolitik yang terjadi, salah satunya ketidakpastian yang ditimbulkan karena perang dagang antara AS dengan China.

"Ini yang menyebabkan tidak hanya subung AS naik, dolar kuat, tapi juga premi risiko di global itu naik," ungkap dia.

Meski demikian, Perry masih merasa yakin bahwa ketahanan ekonomi nasional itu cukup kuat terhadap tekanan eksternal.

"Saya merasa yakin bahwa ketahanan ekonomi Indonesia itu cukup kuat terhadap tekanan eksternal apakah pada saat ini, maupun episode tekanan sebelumnya pada krisis Yunani Oktober 2011, taper tantrum Mei 2013, revisi growth China 2015, dan juga Brexit, dan Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat," tutup dia.

[detik]


Akses Wahanariau.com Via Mobile m.Wahanariau.com
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 085271472010
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Wahanariau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
Sabtu,07 Januari 2017 - 19:38:26 WIB

Harga Cabai Mahal, Gubernur Aher Imbau Warga Bikin 'Warung Hidup'

BANDUNG (WAHANARIAU) -- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) meminta masyarakat mulai menanam t

Selasa,18 Juli 2017 - 17:40:14 WIB

Rupiah Baru Ditolak di Luar Negeri, Ini Kata Gubernur BI

JAKARTA (WR) - Bank Indonesia mengklarifikasi bahwa jika terjadi kesulitan dalam menukarkan uang rup

Senin,02 Januari 2017 - 23:57:08 WIB

190 Perusahaan Sawit Tak Berizin, Gubernur Riau: Data di KPK

PEKANBARU (WAHANARIAU) - Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman sudah mendengar laporan panitia khusus

BERITA LAINNYA
Rabu,15 Agustus 2018 - 00:28:28 WIB

More than 400 IT Professionals Joined CLOUDSEC Hong Kong 2018

CHINA - 14 August 2018 - More than 400 professionals from Hong Kong and Macau today joined CLOUDSEC

Rabu,15 Agustus 2018 - 00:22:40 WIB

Avnet Memperluas Jaringan dengan Microchip

Dinobatkan sebagai Mitra Pemasaran Global bagi Microsemi Portfolio   PHOENIX - 14 AGUSTUS 201

Selasa,14 Agustus 2018 - 00:01:23 WIB

Sihuan Pharmaceutical’s Self-Developed Innovative Oncology Drug Pirotinib Commenced Phase II Clinical Trial in China

Led by Top Oncologist Professor Wu Yilong Expected to Commence Phase III Clinical Trial in 2H2019. D

BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER
IKUTI BERITA KAMI