• Follow Us On : 

2019, Waskita Karya Target Jual Lima Ruas Tol


Redaksi | Senin,07 Januari 2019 - 01:36:42 WIB
Dibaca: 226 kali 
2019, Waskita Karya Target Jual Lima Ruas Tol

JAKARTA - PT Waskita Karya (Persero) Tbk menargetkan dapat mendivestasikan atau menjual lima dari 18 ruas tol kepada Investor tahun ini. Emiten berkode WSKT ini bahkan sampai memasarkan ruas tol ke investor luar negeri.

Direktur Keuangan Waskita Karya, Haris Gunawan menyatakan pihaknya akan mendatangi langsung investor yang berpotensi beli di Dubai, Hong Kong, dan Prancis. Perusahaan juga menggunakan jasa konsultan dari Pricewaterhouse Coopers (PWC), Deloitte, dan Ernst & Young (EY).

"Kami sudah bicara pada tahun politik ini kami masih optimis, tapi mungkin konsepnya memang beda. Biasanya tunggu peminat, sekarang kami datangi investornya," kata Haris, Jumat (04/01/2018).

Waskita Karya membebaskan investor memilih ruas tol yang akan dibeli. Artinya, manajemen tak menargetkan ruas tol mana saja yang harus terjual tahun ini.

Beberapa ruas tol yang ditawarkan oleh Waskita Karya, antara lain Tol Cimanggis-Cibitung, Tol Batang-Semarang, Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Tol Pasuruan-Probolinggo-Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Tol Kayu Agung-Palembang-Betung, Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, dan Tol Serpong-Cinere. "Target kami lima ruas tol, kalau bisa lebih itu harapan kami," imbuh Haris.

Selain divestasi, perusahaan berencana untuk menerbitkan obligasi sekitar Rp5 triliun. Namun, Haris belum bisa memastikan jenis obligasi (bond) yang akan dirilis, apakah perpetual bond atau global bond. "Itu sangat tergantung dengan kondisi, tapi itu akan kami lakukan di semester I akhir," tutur Haris.

Nantinya, perusahaan akan menggunakan sebagian raihan dana obligasi atau sekitar Rp2 triliun untuk pembiayaan kembali (refinancing). Sama seperti divestasi ruas tol yang diubah skemanya, perusahaan juga akan mengubah skema penawaran obligasi. "Konsep yang akan kami tawarkan menggunakan obligasi tanpa bunga," tutur Haris.

Dengan kata lain, obligasi yang dirilis Waskita Karya tak akan memberikan pembayaran bunga secara berkala, melainkan akan dibayar penuh pada saat yang ditentukan atau masa jatuh tempo.

Lalu, manajemen akan mengikuti langkah pemerintah yang mengenakan skema kupon mengambang atau floating. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah dalam menerbitkan surat utang negara (SUN) beberapa waktu terakhir.

"Jadi floating rate plus spread. Jadi kami akan tentukan spread-nya nanti floating nya menggunakan capital market rate. Itu yang sedang kami tawarkan ke penjamin emisi efek," jelas Haris.

Selain itu, perusahaan juga akan mencari perusahaan penjamin emisi efek yang memiliki peringkat AAA untuk menarik investor menanamkan investasi dengan membeli obligasi yang ditawarkan.

Laba Stagnan
Waskita Karya menargetkan laba bersih tahun ini stagnan sebesar Rp4,1 triliun. Angka itu tak jauh beda dengan target laba bersih pada tahun lalu yang juga sekitar Rp4 triliun.

Direktur Utama I Gusti Ngurah Putra mengatakan kinerja stagnan tahun ini disebabkan beberapa tol baru akan beroperasi tahun ini. Dengan demikian, ada biaya operasional lebih yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. "Kami harus alokasikan top up untuk operasionalnya," ucap Putra.

Ia menjabarkan sejumlah pembangunan tol yang akan rampung tahun ini, misalnya Terbanggi Besar-Palembang dan Jakarta-Cikampek Elevated. Jika tidak selesai, maka Waskita Karya akan menggunakan kedua tol itu sebagai tol fungsional selama Lebaran tahun ini.

Sementara itu, perusahaan menargetkan dapat meraup pendapatan usaha sebesar Rp54 triliun dengan nilai kontrak baru sebesar Rp56 triliun. "Sehingga total kontrak yang akan dikelola pada 2019 diharapkan menjadi sebesar Rp120 triliun," jelas Putra.

Lebih lanjut, ia mengatakan perusahaan telah menerima pembayaran atas proyek dan dana talangan sebesar Rp40,15 triliun sepanjang tahun lalu. Jumlah itu terdiri dari Tol Batang-Semarang sebesar Rp5,75 triliun, Light Rail Transit (LRT) Palembang Rp3,9 triliun, Tol Pasuruan-Probolinggo Rp2,1 triliun, Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung Rp1,96 triliun, dan penerimaan proyek lainnya Rp18,23 triliun.

"Kami juga ada penerimaan atas factoring piutang proyek Salatiga-Kartasura Rp2 triliun serta adanya pengembalian dana talangan tanah sebesar Rp6,21 triliun," tutupnya.

[Rimanews]


Akses Wahanariau.com Via Mobile m.Wahanariau.com
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 085271472010
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Wahanariau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
Sabtu,07 April 2018 - 16:28:34 WIB

Hingga 2019, Pemerintah Menjamin BBM dan Listrik Tak Naik

JAKARTA - Pemerintah kembali menegaskan dan menjamin harga BBM jenis premium, solar dan minyak tanah

Kamis,22 Februari 2018 - 14:44:45 WIB

Hingga 2019, Tarif Listrik Tidak Naik

JAKARTA - Pemerintah berkomitmen tidak menaikkan tarif listrik hingga 2019 mendatang. Hal ini disamp

BERITA LAINNYA
Selasa,15 Januari 2019 - 02:08:37 WIB

Blockchain Project OASIS BEBIT Hosted Singapore Meetup Successfully

SINGAPORE - Media OutReach - 14 January 2019 - January 10, 2018, project OASIS B

Selasa,15 Januari 2019 - 02:04:25 WIB

ABACA member CEZEX becomes Asia’s First Digital Asset Exchange for Currency, Asset-Backed Security Tokens and Derivatives

SINGAPORE - Media OutReach - 14 January 2019 - Asia Blockchain and Crypto Associ

Selasa,15 Januari 2019 - 02:00:58 WIB

Chubb Appoints Glen Browne Deputy Regional President for Asia Pacific and Division President, Southeast Asia

SINGAPORE - Media OutReach - 14 January 2019 - Chubb announced today the appoint

BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER
IKUTI BERITA KAMI