Puskesmas Panipahan Rayakan Hari Kartini

Loading...

BAGANSIAPIAPI - Hari Kartini yang jatuh pada 21 April diperingati Puskesmas Panipahan dengan memotong kue tar dan membagikan telur rebus kepada pasien. Hal ini dilakukan pada Kamis (21/4/2016) pagi.

Kepala Puskesmas Panipahan dr Hj Netti Juliana mengatakan, kegiatan sederhana yang dilakukan sebagai bentuk mengingat sosok Kartini di tanah air. "Saat meniup lilin kue tar kita juga membacakan kisah singkat Kartini dihadapan semua staf," klata Netty.

Pembacaan dilakukan oleh Netty langsung selaku kepala Puskesmas. Tak terasa kita sudah melewati pertengahan di bulan April. Di mana pada tanggal 21 April ini bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kartini sebagai bentuk untuk mengenang jasa jasanya yang sangat besar untuk bangsa kita.

"Seperti di ketahui, Kartini semasa jaman penjajahan memang tidak ikut bertarung di medan perang, namun memiliki peran besar untuk mengangkat derajat kaum wanita saat itu agar di sejajarkan dengan kaum pria terutama dalam hal memperoleh pendidikan," kata Netty sambil membacakan teks.

Loading...

Netty melanjutkan, sosok Kartini yang di lahirkan 21 April 1879 merupakan anak dari keturunan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan bupati Jepara saat itu. Dan ibunya bernama M.A. Ngasirah yang juga merupakan keturunan dari Kyai Haji Madirono salah satu tokoh agama di Jepara saat itu.

Kartini yang saat itu sempat menimba ilmu lewat sekolah ELS (Europese Lagere School) harus terhenti di usia 12 tahun karena tradisi di pingit atau larangan keluar rumah untuk para gadis saat itu. Meski begitu semangat belajar dan menuntut ilmu Kartini tak pudar meski hanya lewat goresan surat surat yang di kirim kepada teman temannya yang saat itu kebanyakan dari Belanda.

Akhirnya Kartini di sunting KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan Bupati Rembang. Beruntung keinginan Kartini untuk bisa mendirikan sekolah khusus wanita saat itu mendapat izin dari suaminya. Namun cita cita Kartini harus terhenti terlalu dini, karena kemudian meninggal dunia di usia 25 tahun bertepatan dengan tanggal 17 September 1904 setelah beberapa hari melahirkan anak pertama dan terakhirnya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904.

"Membaca kisah Kartini ini tentunya kami keluarga besar puskesmas khususnya sebagai perempuan masa kini bersyukur masih diberikan kesehatan dan kesempatan mengenyam pendidikan dari D3 sampai sarjana profesi dan juga bisa mendapatkan pekerjaan dari pemerintah tentunya harus melanjutkan perjuangan Kartini," kata Netty.

Tak hanya itu, kita harus serta mengabdikan dirinya terhadap bangsa indonesia khususnya kabupaten Rokan Hilir yang kita cintai ini agar kita bisa berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain serta bangsa dan tanah air. "Dengan rasa syukur kami dizaman sekarang atas perjuangan Kartini dimasa lalu sehingga wanita kini memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar." ujarnya.

Meskipun tidak sama persis seperti perjuangan Kartini setidaknya kami kartini puskesmas panipahan adalah pejuang dibidang kesehatan mengenang dan memperingati hari Kartini dengan cara sangat sederhana berbagi sepotong tar pada semua Kartini yang dinas pagi hari itu serta pada pasien ibu-ibu yang datang berobat.

Lalu sore hari dilanjutkan dengan memberikan sebutir telur rebus bagi Kartini yang sudah usia lanjut sebagai rasa kebersamaan mengenang pejuang kebangkitan perempuan pribumi. "Meskipun sederhana namun maknanya sangat mendalam dan menjadi motivasi kami yang tinggal diwilah pesisir." Pungkas Netty.

(said/adv)

Loading...

Follow Dan Ikuti Kami






WahanaRiau.com
di Google+
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 085271472010
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Wahanariau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...
Loading...