Bangkok Design Week 2026 Menjadi Pusat Kreativitas Asia

Kamis, 12 Februari 2026 | 19:00:12 WIB
BKKDW2026

Menyatukan Jaringan dari Lebih dari 17 Negara untuk Mendorong Kolaborasi Lintas Batas dan Pertumbuhan Regional yang Berkelanjutan

BANGKOK, THAILAND – Media OutReach Newswire – Seiring desain semakin terbukti kemampuannya mengubah kreativitas menjadi kekuatan strategis bagi daya saing makroekonomi, Bangkok Design Week 2026 (BKKDW2026), yang diselenggarakan oleh Creative Economy Agency (Organisasi Publik) atau CEA bersama mitranya, memasuki edisi kesembilannya dengan ambisi berani — berkembang dari festival desain nasional menjadi platform kreatif terkemuka di Asia. Dengan menyatukan jaringan desainer dan mitra internasional dari lebih dari 17 negara di Asia dan Eropa, festival ini memainkan peran penting dalam memposisikan Bangkok sebagai Pusat Festival Kreatif Asia (Creative Hub of Asia).

Dengan tema “DESIGN S/O/S,” Bangkok Design Week 2026 menyoroti desain dan kreativitas sebagai alat praktis untuk membantu masyarakat bertindak, beradaptasi, dan bertahan di tengah tantangan global. Festival ini memperluas kemitraan internasional secara signifikan, membuka ruang baru bagi desainer, seniman, dan wirausahawan kreatif untuk bertukar pengetahuan, teknologi, dan model bisnis. Kolaborasi ini bertujuan membangun ekosistem bisnis kreatif baru yang mendorong peluang investasi, business matching, dan pengembangan produk kreatif Thailand yang mampu bersaing di pasar global.

Jelajahi perspektif dari mitra internasional, yang menyoroti peran desain sebagai bahasa universal — jembatan tanpa batas antarbudaya yang menghasilkan peluang nyata bagi ekonomi kreatif Thailand di panggung global.

DARI WARISAN MENUJU MASA DEPAN: RESTORASI SEBAGAI PROYEK DESAIN
Manajemen Aset Budaya Berkelanjutan untuk Generasi Mendatang
oleh Kedutaan Besar Italia di Bangkok

Sorotan internasional pertama datang dari Italia melalui proyek Italia Reloaded, yang dipresentasikan oleh Italian Cultural Institute dan Kedutaan Besar Italia di Thailand. Inisiatif ini memperkenalkan konsep “Restorasi sebagai Keberlanjutan.”

Maria Sica, Direktur Italian Cultural Institute, menjelaskan, “Restorasi bukan soal masa lalu, melainkan inti dari keberlanjutan. Ini fokus pada penggunaan kembali sumber daya yang ada daripada memproduksi yang baru, dengan prinsip ‘Not Fake’ — memperbaiki tanpa meniru. Dengan mengintegrasikan inovasi, restorasi mempertahankan keaslian dan nilai hidup dari warisan budaya. Proyek ini juga memanfaatkan hubungan historis antara Florence dan Bangkok, terinspirasi dari warisan Silpa Bhirasri, sebagai fondasi transfer pengetahuan dan lokakarya praktik. Kegiatan ini bertujuan mengangkat kerajinan tangan Thailand ke standar internasional sambil mendukung pariwisata budaya berkualitas tinggi. Secara keseluruhan, upaya ini menjadikan restorasi sebagai pilar strategis manajemen aset budaya perkotaan — merevitalisasi distrik bersejarah, menghasilkan vitalitas ekonomi, dan memperkuat ekosistem bisnis kreatif yang tumbuh berkelanjutan dari fondasi kota yang ada.”

LAHI (Heritage): Pameran Mode Filipina
Mode sebagai Diplomasi Budaya dan Jembatan Ekonomi Baru di ASEAN
oleh Kedutaan Besar Filipina di Thailand

Mewakili Filipina, Bangkok Design Week 2026 menjadi platform peluncuran “LAHI (Heritage): The Philippines Fashion Exhibition,” yang dipresentasikan melalui kolaborasi antara Department of Trade and Industry (DTI), Philippine Trade and Investment Center di Bangkok, dan Kedutaan Besar Filipina di Thailand. Menggunakan mode sebagai alat pengembangan ekonomi sekaligus diplomasi kreatif, inisiatif ini menegaskan peran Thailand sebagai mitra strategis bagi Filipina dalam ASEAN.

Seorang perwakilan DTI mencatat, “Bangkok Design Week adalah platform utama untuk menampilkan kemampuan desain Filipina ke pasar regional dan global. Ini juga menjadi pintu gerbang untuk peluang bisnis dan investasi lintas batas, terutama melalui co-creation. Kolaborasi ini mengeksplorasi produk hibrida yang menggabungkan kekuatan Thailand dalam manufaktur standar internasional dengan desain dan kerajinan Filipina. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat brand ASEAN dan meningkatkan produk ke segmen pasar bernilai tinggi, tetapi juga menunjukkan bagaimana mode — yang berakar pada warisan budaya — dapat menjadi aset ekonomi kompetitif di panggung global.”

Ephemeral Sounds of the Gulf
Mendengarkan Ketidakkekalan melalui Desain yang Dimaksudkan untuk Menghilang

Proyek Ephemeral Sounds of the Gulf oleh seniman dan produser media campuran asal Jepang, Erika Tsuchiya (VCUarts Qatar), meneliti ketegangan antara permanen dan sementara dalam produksi dan konsumsi kontemporer. Karya ini bereksperimen dengan rekaman biomaterial, menggunakan media fisik sebagai platform sonik dan konseptual.

Erika Tsuchiya menjelaskan, “Proyek ini mencerminkan potensi ekonomi berkelanjutan dari pasar format fisik bahkan di era digital — terutama di Bangkok, di mana budaya vinil sedang mengalami kebangkitan. Proyek ini juga berfungsi sebagai R&D untuk rantai pasokan hijau masa depan dalam industri musik. Dengan merekam lanskap suara alami dari kawasan Teluk Arab dan mendistribusikannya secara global melalui rekaman yang dapat terurai secara hayati, karya ini menantang ekspektasi konvensional tentang kesempurnaan suara, sambil meningkatkan kesadaran akan polusi digital dan reproduksi massal yang boros sumber daya.

“Sekarang, desainer dan kreator harus sadar dari mana bahan berasal dan dampak pilihan mereka. Memahami biaya dan konsekuensi sejak awal rantai pasok adalah dasar model bisnis yang tumbuh tidak hanya dalam keuntungan, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang,” tutup Tsuchiya.

People Pavilion: Memikirkan Ulang Tiang Lampu Jalan sebagai Landmark Kota
Naungan, Cahaya, dan Desain Inklusif untuk Kota Tropis

Contoh nyata inovasi perkotaan lainnya adalah People Pavilion, atau Lan Prakai Muang, kolaborasi antara Urban Ally dan HAS Design and Research, dipimpin oleh Jenchieh Hung dan Kulthida Songkittipakdee. Proyek ini menafsirkan ulang “Tiang Lampu Jalan” sebagai infrastruktur perkotaan yang ada menjadi arsitektur publik fungsional dan inklusif.

Desain ini berlandaskan perspektif bersama bahwa “iklim tropis bukanlah kendala, melainkan sumber daya perkotaan.” Mengambil inspirasi dari kehidupan sehari-hari di Bangkok, di mana orang mencari tempat teduh di siang hari dan cahaya di malam hari, paviliun ini meng-upgrade infrastruktur yang ada menjadi ruang publik yang dapat digunakan. Pendekatan ini mengurangi limbah konstruksi sekaligus menambah nilai aset perkotaan melalui konsep infrastructure upcycling.

Inti proyek ini lebih dari sekadar menciptakan ruang baru. People Pavilion berfungsi sebagai prototipe perkotaan untuk pembangunan kota berkelanjutan, menawarkan solusi alternatif terhadap tantangan ruang publik tanpa bergantung pada anggaran besar. Melalui kolaborasi lintas sektor dan desain inklusif, area yang kurang dimanfaatkan atau terabaikan diubah menjadi tempat dengan dampak sosial dan ekonomi nyata, mendukung kota yang lebih tangguh, adaptif, dan berpusat pada manusia. Akhirnya, proyek ini menunjukkan bahwa transformasi perkotaan yang berarti dapat dicapai melalui desain strategis, bukan investasi finansial besar.

HONG KONG: Memproyeksikan Warisan Masa Depan
Ketika Arsitektur Sehari-hari Menjadi Cetak Biru Masa Depan

Pameran HONG KONG: Projecting Future Heritage, yang awalnya dipresentasikan di Venice Biennale Architettura 2025, hadir di Bangkok yang dikurasi oleh arsitek dan urbanis Hong Kong, Sunnie S.Y. Lau dan Fai Au. Pameran ini menawarkan perspektif inovasi sosial dengan meninjau kembali arsitektur sehari-hari. Melampaui landmark ikonik, pameran ini mengajak refleksi kritis terhadap bangunan biasa dan struktur urban yang familiar.

Kedua pencipta menjelaskan, “Dalam konsep Future Heritage, kami mengeksplorasi kesamaan strategis di antara kota pelabuhan bersejarah seperti Hong Kong, Venesia, dan Bangkok. Hal ini menyoroti peran sistem air perkotaan sebagai infrastruktur dasar yang telah membentuk transformasi kota-kota ini dari permukiman historis menjadi pusat ekonomi. Kami juga menampilkan arsitektur lokal yang mencerminkan kehidupan sehari-hari nyata, yang mungkin menjadi warisan berharga dalam 20–30 tahun mendatang.”

Dari perspektif keberlanjutan, pameran ini mengusulkan pendekatan pembangunan perkotaan yang mengintegrasikan kearifan tradisional dengan teknologi kontemporer. Alih-alih melihat bangunan yang ada sebagai usang atau memberatkan, pendekatan ini menganjurkan adaptive reuse — membayangkan ulang dan menggunakan kembali struktur tanpa pembongkaran — sehingga tetap mendukung kehidupan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari secara bermakna. Pameran ini menekankan bahwa melihat kembali apa yang sudah ada adalah kunci penting untuk mengubah warisan budaya menjadi modal ekonomi dan intelektual yang mampu tumbuh berkelanjutan di masa depan.

Meningkatkan Bangkok Design Week sebagai Pusat Kreatif Asia

Kolaborasi-kolaborasi ini hanyalah sebagian dari rangkaian kegiatan Bangkok Design Week 2026, yang berlangsung dari 29 Januari – 8 Februari 2026. Melalui arahan strategis CEA, festival ini semakin diangkat sebagai platform kreatif internasional yang menghubungkan desainer, kota, bisnis, dan investor dari Thailand dan luar negeri. Tujuannya jelas: mengubah modal budaya menjadi nilai ekonomi yang terukur, sekaligus menegaskan posisi Bangkok sebagai salah satu pusat festival kreatif terkemuka di Asia. Didorong oleh kekuatan ekonomi kreatif dan didukung kolaborasi lintas batas jangka panjang, Bangkok Design Week terus memajukan visi pertumbuhan inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan untuk kawasan ini dan sekitarnya.

Website & Media Sosial:
Website: www.bangkokdesignweek.com
X: @BKKDesignWeek
Facebook/Instagram: bangkokdesignweek
Line: @bangkokdesignweek

Tentang Bangkok Design Week

Bangkok Design Week, yang pertama kali diluncurkan pada 2018, telah lama menjadi agenda tetap dalam kalender acara Bangkok. Festival ini memainkan peran penting dalam mendorong ekonomi kreatif dan menjadikan Bangkok menonjol sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sebagai City of Design. Diselenggarakan oleh Creative Economy Agency (Organisasi Publik) atau CEA, bekerja sama dengan lebih dari 60 organisasi publik dan swasta, institusi pendidikan, serta mitra internasional, festival ini menarik sekitar 400.000 pengunjung setiap tahun, baik dari Thailand maupun luar negeri. Bangkok Design Week berfungsi sebagai mesin pertumbuhan bagi industri kreatif Thailand dalam berbagai cara, termasuk menampilkan bisnis dan desain kreatif, mendorong daya saing, menyediakan peluang jejaring bisnis lokal dan internasional, serta menghasilkan momentum ekonomi bagi sektor hilir seperti pemasaran, percetakan, media daring, galeri, kafe, restoran, suvenir dan hadiah, perjalanan, hotel, dan transportasi publik.

Tentang Creative Economy Agency (Organisasi Publik) atau CEA

Creative Economy Agency (Organisasi Publik) atau CEA adalah badan pemerintah yang didedikasikan untuk mempromosikan kreativitas sebagai pendorong utama ekonomi kreatif Thailand. CEA mendukung pengembangan berbagai industri kreatif dan mendorong sektor manufaktur untuk mengadopsi pendekatan kreatif, meningkatkan nilai produk dan layanan, serta memperkuat daya saing Thailand di kancah global.

Hashtag: #CEA #BKKDW2026 #BangkokDesignWeek #DesignSOS #PowerOfDesign #PowerOfThaiDesign

The issuer is solely responsible for the content of this announcement.

Tags

Terkini