• Follow Us On : 

Ekonomi China "Kecanduan" Utang


Lidya Anggraini | Rabu,16 Agustus 2017 - 13:12:14 WIB
Dibaca: 734 kali 
Ekonomi China

NEW YORK (Wahanariau) -- Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan kredit China telah masuk dalam trajektori berbahaya.

Dalam laporan terbarunya, IMF menyatakan ada peningkatan risiko penyesuaian yang bersifat disruptif dan/atau perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi akibat ledakan kredit.

Mengutip BBC, Rabu (16/8/2017), IMF pun meminta China mengambil langkah untuk menurunkan ledakan kredit secara perlahan. Tanpa ledakan kredit, ekspansi ekonomi China akan secara signifikan lebih rendah.

Sejak krisis keuangan global, pertumbuhan ekonomi China melambat. Tiga dekade silam, pertumbuhan ekonomi China mencapai rata-rata 10 persen per tahun, namun pada tahun 2016 lalu hanya 6,7 persen.

Pemerintah China telah memperkirakan perlambatan tersebut. Pasalnya, kisaran pertumbuhan ekonomi dua digit seperti dahulu tidak bisa berkesinambungan dalam jangka panjang.

IMF menyatakan, dalam kurun waktu 2012-2016, pola utang dan kredit yang berkesinambungan menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang melambat sebesar 2 persen.

Menurut IMF, kelompok debitur terbesar adalah BUMN, meski ada juga peningkatan besar pada utang pemerintah, kalangan usaha, dan rumah tangga. Meski demikian, tidak semua BUMN itu pantas diberikan kredit.

Pasalnya, banyak BUMN "zombi" di China, yang kondisi finansialnya kurang sehat dan kerap menjalankan bisnis pada industri yang sudah kelebihan kapasitas.

Dalam laporan IMF, BUMN zombi tersebut yang menyumbang porsi tertinggi terhadap penerbitan utang korporasi. IMF pun memberikan peringatan terkait pasar properti China, di mana jika ada koreksi secara mengejutkan alias harga jatuh, maka berisiko pada stabilitas keuangan.

Oleh sebab itu, langkah-langkah antisipatif perlu dilakukan. Rekomendasi paling umum yang diberikan IMF adalah China harus menurunkan target pertumbuhan ekonomi, yang tahun ini dipatok mencapai 7,5 persen.

Di samping itu, China juga harus membenahi perusahaan-perusahaan zombi yang memberatkan rasio utang. (kompas)


Akses Wahanariau.com Via Mobile m.Wahanariau.com
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 085271472010
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Wahanariau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
Selasa,03 Januari 2017

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Global Meningkat

KUALA LUMPUR (WAHANARIAU) -- CEO Pusat Perbankan Syariah dan Ekonomi, Muhammad Zubair Mughal mengata

Rabu,14 Maret 2018

Hadapi Kenaikan Suku Bunga AS, Sri Mulyani Optimis Stabilitas Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga

YOGYAKARTA - Optimistis stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun Bank Sentral Amerika Ser

Rabu,07 Maret 2018

Terus Lakukan Reformasi Ekonomi, Indonesia Mendapat Pengakuan dan Kepercayaan Internasional

JAKARTA - Indonesia sekarang ini semakin mendapat pengakuan dan kepercayaan internasional terhadap r

Sabtu,21 April 2018

Dorong Umat Islam Jadi Motor Penggerak Ekonomi RI

JAKARTA - Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar dilihat dari sisi Sumber Daya Alam (SDA

Selasa,20 November 2018

Ini Kunci Perbaiki Ekonomi Syariah

BENGKALIS - Sekolah Tinggi Ekonomi (STIE) Syari’ah Bengkalis menggelar seminar internasio

Sabtu,21 April 2018

Umat Islam Bisa Jadi Motor Penggerak Ekonomi RI, Ini Syaratnya...!

JAKARTA - Masyarakat Indonesia yang merupakan mayoritas umat muslim didorong untuk bisa menjadi

BERITA LAINNYA
Rabu,13 Januari 2021

South Korean Startup bitsensing Introduces the Smallest Radar for a Health Monitoring System at CES 2021

The mini Healthcare Radar, mini-H, Creates a Safer and More Convenient Monitoring System for Telehea

Selasa,12 Januari 2021

Joinland Group Anticipates Better 2021

New Agricultural Projects Expected To Contribute To Group Revenues MALAYSIA - 12 January 2021 - The

Selasa,12 Januari 2021

Plus Renewables and 424 Capital Enter Into a Merger Agreement for Asset Management Businesses in North America

HONG KONG SAR - 12 January 2021 - Plus Renewable Technologies Limited ("Plus Renewable") t

BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER
IKUTI BERITA KAMI