• Follow Us On : 

Covid-19 dan Upaya Negara dalam Penanganan


Redaksi | Minggu,26 April 2020 - 16:35:28 WIB
Dibaca: 709 kali 
Covid-19 dan Upaya Negara dalam Penanganan Tata Haira, SH. MH. Mantan Pengurus BADKO HMI Riau Kepri 2013-2015

CORONAVIRUS Disease 2019 (Covid-19) yang lebih polpuler dengan sebutan Corona merupakan wabah virus penyakit yang sudah menyebar hampir seluruh dunia. Tercatat sudah 210 negara lebih yang melaporkan Covid-19. Tinggal hanya beberapa negara saja lagi yang tidak dimasuki oleh virus ini.

Hingga hari ini (26/4/20) menurut data dunia yang dilansir Media Kompas bahwa, dari 2,92 juta orang yang positif terinfeksi Covid-19, 203.289 pasien meninggal dunia dan 836.970 dinyatakan sembuh.

Di Indonesia sesuai yang disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah perhari ini untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta mengatakan bahwa terkonfirmasi positif ada 8.607. Dari seluruh data tersebut, telah meninggal dunia sebanyak 720 orang.

Berbagai macam cara telah dilakukan negara negara dunia untuk mengatasi pandemi Covid-19 termasuk juga Indonesia. Dari awal ditemukannya virus Corona awal Maret lalu Indonesia telah melakukan berbagai cara.

Dalam waktu sebulan saja Indonesia telah mengeluarkan 3 (tiga) produk hukum yakni Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Keputusan Presiden (Keppres) Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, dan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan.

Dengan dikeluarkannya produk hukum tersebut tentu harus dijalankan, berbagai penerjemahan dilakukan oleh tiap kepala daerah Sesuai dengan kondisi daerahnya masing masing. Peraturan Gubernur, Walikota, Bupati dan lainnya bermunculan, yang inti semuanya itu adalah cara bagaimana penanganan Covid-19 di daerahnya.

Dengan daerah yang telah diberlakukan penuhnya PSBB sesuai petunjuk PP, tentunya menimbulkan akibat terkait dengan kelangsungan hidup masyarakat. Karena mereka sudah tidak sebebas biasanya menjalani kehidupannya khususnya dalam hal mereka mencari perekonomian keluarganya.

Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono, pernah mengatakan bahwa daya tahan pelaku usaha di Indonesia hanya kuat sampai tiga bulan ke depan jika wabah virus corona tetap berlanjut. Karena, diibaratkan pengusaha hanya sanggup (jangka waktu 3 bulan) membiayai pengeluaran tanpa pemasukan.

Dapat ditarik kesimpulan pengusaha hanya mampu bertahan hingga bulan Juni. Apalagi bila dibanbandingkan dengan pengusaha kecil atau UMKM. Tentu hal ini betul betul mengancam mereka dan solusi dari pemerintah belum ada terkait hal ini.

Pemutus Hubungan Kerja (PHK) secara besar besaran juga tidak dapat terelakkan lagi, bila itu terjadi tentu konflik sosial tidak terelakkan lagi. Karena sudah berhubungan dengan perut dan kelangsungan hidup. Antisipasi yang benar benar yang diinginkan masyarakat belum ada hingga hari ini.

Hal ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 ini belum ada ujung yang pastinya. Sampai kapan pemerintah mampu untuk mengatasinya.

Menunggu Kepastian Penanganan Negara
Menurut Carl Von Clausewits (Carl Philipp Gottfried) (1780-1831) "Strategi merupakan penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan (the use of engagements for the object of war)"

Negara harus punya rekayasa yang pasti terhadap wabah Corona/ Covid-19 ini. Apa strategi yang digunakan dan hingga kapan kondisi ini bisa diatasi, juga tidak mengenyampingkan persoalan persoalan yang timbul akibat cara tersebut.

Jadi yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan kepastian dan rasionalisasi dari tiap langkah yang dilakukannya. Dengan mempertimbangkan sebagai berikut :

Pertama, strategi yang tidak bisa diramalkan bukanlah sebuah strategi. Karena sebelum strategi itu digunakan seharusnya diatas kertas sudah berhasil dihitung persentase keberhasilannya.

Kedua, seandainya langkah tersebut belum mampu menjelaskan secara teori terhadap kemungkinan untuk menang jangan lah dahulu digunakan. Karena bisa brakibat fatal.

Ketiga, dalam menjalankan sebuah rekayasa sosial harus mempertimbangkan akibat akibat yang ditimbulkannya, serta sudah harus ada penanganan terhadap akibat tersebut.

Keempat, jangan jadikan rakyat sebagai alat percobaan dalam sebuah penganan yang belum tentu benar benar bisa berjalan dengan baik.

Bila dengan adanya kejelasan metode yang digunakan serta dimulainya kapan dan hingga kapan. Serta dapat direalisasikan dari tingkat pusat hingga daerah, sepertinya rakyat Indonesia akan mengikuti dengan sepenuh hati. Karena bangsa kita adalah bangsa yang sangat dewasa dalam bernegara. Semoga Covid 19 segera dapat diatasi. Amin...

Oleh Tata Haira, SH. MH. Mantan Pengurus BADKO HMI Riau Kepri 2013-2015


Akses Wahanariau.com Via Mobile m.Wahanariau.com
Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 085271472010
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Wahanariau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
Rabu,20 Mei 2020

Rendang Sajian Alternatif Pandemi Covid-19

INTERAKSI orang Minangkabau yang mendiami pantai barat Sumatra dan daerah pedalaman dengan bangsa as

BERITA LAINNYA
Senin,27 Juli 2020

Infor and Nippon Systemware Forge Alliance to Market Infor CloudSuite Industrial ERP Package for Japans Manufacturing Industry

Partnership to build core business systems to accelerate the digital shift for customers JAPAN - Me

Senin,27 Juli 2020

Philippines is Among Asia Pioneers in Leveraging Distributed Ledger Technology for Bond Distribution

SINGAPORE - Media OutReach - 27 July 2020 - The Philippine Bureau of the Treasury (BTr), together wi

Senin,27 Juli 2020

Babel Film Workshops Filmmaking Initiative Brings Together Hong Kong and US Students Amid Pandemic

CHINA - Media OutReach - 27 July 2020 - Over the past five months, students from Hong Kong and New H

BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER
IKUTI BERITA KAMI