CGTN: Imlek Kecil Membuka Jendela Besar ke Jiwa Tiongkok

CGTN: Imlek Kecil Membuka Jendela Besar ke Jiwa Tiongkok
photo

BEIJING, CHINA – Media OutReach Newswire – Saat Tiongkok merayakan Xiaonian, atau Imlek Kecil, semakin terlihat bukti bahwa tradisi kuno ini berkembang menjadi tren gaya hidup global. CGTN menerbitkan sebuah artikel yang menganalisis bagaimana pra-perayaan Tahun Kuda – dari ritual rakyat “menyapu debu” hingga perpaduan lintas budaya Gala Festival Musim Semi – menggambarkan resonansi budaya Tiongkok yang kian meluas di dunia.

Saat kalender lunar mencapai halaman terakhirnya, Tiongkok memasuki periode penuh sukacita yang dikenal sebagai Xiaonian, atau Imlek Kecil. Sering dirayakan sebagai Festival Dewa Dapur, momen ini menandai awal resmi “tahun sibuk” – istilah tradisional untuk periode intens namun penuh kegembiraan dalam menyiapkan makanan, membersihkan rumah, dan berbelanja menjelang Festival Musim Semi.

Festival Musim Semi merupakan momen yang sangat penting untuk reuni keluarga. Pada 2024, UNESCO mendaftarkan “Festival Musim Semi, praktik sosial masyarakat Tiongkok dalam merayakan Tahun Baru Imlek tradisional” ke dalam Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Sementara rutinitas sehari-hari terus berkembang, tradisi tetap menjadi jangkar yang memberikan rasa normalitas dan makna. Tidak mengherankan jika dalam kondisi ketidakpastian, gaya hidup tradisional Tiongkok menemukan audiens baru di luar negeri, dengan Festival Musim Semi menjadi salah satu tradisi unik yang kian menjadi pengalaman manusia bersama.

Tradisi Beragam, Aspirasi Bersama

Sebagai pra-perayaan, Xiaonian yang jatuh pada 10 dan 11 Februari tahun ini memulai periode persiapan yang terfokus. Menurut kepercayaan kuno, keluarga memberikan Zaotang, atau “Permen Dapur” yang lengket, kepada Dewa Dapur untuk memastikan ia menyampaikan laporan baik tentang perilaku keluarga sebelum naik ke surga. Tradisi ringan ini menandai awal beberapa ritual simbolis yang bertujuan menyambut awal baru.

Salah satu elemen penting dari transisi ini adalah mengenakan pakaian baru. Dalam budaya Tiongkok, Tahun Baru adalah momen ketika “segala sesuatu diperbarui,” dan mengenakan pakaian baru melambangkan melepaskan “debu” atau kesialan masa lalu untuk menyambut energi baik di tahun yang akan datang. Selain pembaruan pribadi, keluarga di seluruh negeri melakukan “menyapu debu,” ritual pembersihan rumah secara menyeluruh untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi berkat baru.

Meskipun praktik ini universal, rasa perayaan berbeda-beda menurut daerah. Di utara, keluarga biasanya berkumpul menyantap pangsit panas, sementara di selatan menu sering menampilkan kue beras manis (Niangao) dan bola beras ketan (Tangyuan).

Seperti dijelaskan Mao Qiaohui, peneliti di Institute of Ethnic Literature, Chinese Academy of Social Sciences, variasi ini menyoroti sifat inklusif peradaban Tiongkok.

“Walaupun adat-istiadat rakyat berbeda antara wilayah di Tiongkok, keragaman ini mencerminkan pluralisme budaya dalam tradisi Festival Musim Semi,” ujarnya. “Identitas regional yang berbeda berkontribusi pada upaya bersama untuk harmoni dan reuni.”

Vitalitas tradisi ini juga terlihat pada kerajinan lokal. Di wilayah utara seperti Shandong dan Henan, pengrajin saat ini membuat Huamo, roti kukus hias dengan desain kuda untuk tahun zodiak yang akan datang. Sementara di Shuozhou, Provinsi Shanxi, para pewaris warisan takbenda mengukir kuda perkasa pada labu tradisional. Karya-karya ini mencerminkan keberagaman regional festival dan keinginan kolektif untuk kemajuan di tahun mendatang.

ooooooooo

Suasana perayaan juga tercermin dalam persiapan Gala Festival Musim Semi (Chunwan), yang diproduksi oleh China Media Group.

Latihan terakhir menampilkan pertunjukan yang memadukan budaya tradisional Tiongkok dengan seni internasional. Salah satu pertunjukan menggabungkan tarian kayu etnis Hani dan Lisu dengan hentakan ritmis Flamenco Spanyol dan tarian rakyat Hungaria. Dengan bintang internasional seperti Jackie Chan dan Lionel Richie, panggung Gala siap menjadi ajang global untuk bersatu.

Jangkauan Gala telah melampaui audiens domestik. Melalui acara “Spring Festival Gala Prelude” di Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Italia, dan beberapa negara Afrika, program ini menjadi gerbang bagi masyarakat dunia untuk mengenal adat Tahun Baru Imlek dan pertukaran budaya.

Ketertarikan ini meluas ke kehidupan sehari-hari di seluruh dunia, terlihat dari tren #BecomingChinese. Fenomena ini menampilkan pengguna media sosial internasional yang mengadopsi elemen kehidupan sehari-hari ala Tiongkok – seperti membawa termos berisi air panas, mengenakan sandal rumah berlapis, atau melakukan gerakan Baduanjin secara sadar.

Festival ini tidak lagi sekadar perayaan jarak jauh, tetapi menjadi gerbang menuju gaya hidup Tiongkok, berakar pada kebijaksanaan kesejahteraan kuno, diperbarui dengan kenyamanan modern, dan menjadi langkah awal eksplorasi budaya yang menghargai ritual, keselamatan, dan keramahan.

Baik melalui siaran global maupun kebiasaan sehari-hari, Festival Musim Semi semakin memperkuat rasa empati budaya antara Tiongkok dan dunia.

Sumber informasi lebih lanjut: https://news.cgtn.com/news/2026-02-10/Little-New-Year-opens-big-window-to-China-s-soul-1KEhJjMX2fe/p.html

Hashtag: #CGTN

The issuer is solely responsible for the content of this announcement.

Berita Lainnya

Index